Kamis, 17 April 2008

Kasta jiwa

Dulu waktu kecil, aku nonton acara televisi
Mahabarata. Di dalam film itu, kalo gak salah ada 4 kasta yaitu: kasta
Brahmana(pendeta), Ksatria(raja, panglima), Sudra(saudagar) dan … yang terakhir
lupa. Pokoknya yang terakhir itu kastanya rakyat miskin. Dalam sistem kasta
itu, mereka tidak boleh menikah dengan orang yang kastanya lebih rendah. Dalam sistem raja-raja di Cina,
rasanya sistem kasta ini juga ada (dari nonton film).



 



Saat ini, terutama di tempat kita di
Indonesia, berdasarkan “tampak luar” sistem kasta ini sudah tidak ada. Memang
masih ada pernikahan yang dilarang oleh orangtua hanya karena perbedaan kasta
(perbedaan suku, status sosial, tingkat ekonomi).
Tapi tampaknya hal ini semakin hari semakin
menghilang. Kalo orang jaman dulu, pertentangan dari orangtua akan sangat
keras. Tetapi seiring waktu, pertentangan itu luluh juga. (ok, mungkin tidak
semuanya kayak gitu). Dan memang adalah kenyataan juga, masih ada orang yang
membeda-bedakan kasta ini dalam bergaul.



 



Tetapi dalam artikel yang aku tulis ini,
aku akan membahas kasta jiwa. Suatu pembedaan kasta terhadap orang lain yang
terbentuk dalam jiwa.



 



Contoh yang nyata adalah, apabila seorang
cewek didekati oleh seorang cowok yang kasta jiwanya lebih rendah.
Dalam sekejap mata saja, cewek itu dapat
langsung memberikan penilaian ”he’s not in my class, go away!”. Ini yang aku
maksud dengan kasta jiwa. Seseorang memberikan penilaian terhadap orang lain berdasarkan
keadaan jiwa dari orang lain itu. Dan keadaan jiwa itu terpancar keluar melalui
nada suara mereka, body language mereka dan kata-kata yang mereka gunakan. Seseorang dapat langsung mengetahui kasta
orang lain hanya melalui komunikasi singkat.



 



Kasta jiwa ini dapat dibedakan menjadi 3
berdasarkan acuan terhadap diri sendiri. Yaitu:



1. Kasta jiwa rendah



2. Kasta jiwa sepantaran



3. Kasta jiwa tinggi



 



Apabila seseorang bertemu dengan orang
yang kasta jiwanya rendah. Maka dia akan cenderung memimpin orang berkasta
rendah itu. Atau dia akan memandang rendah pada orang berkasta rendah itu.



Apabila seseorang bertemu dengan orang
yang kasta jiwanya sepantaran. Mereka akan cepat dapat bergaul akrab.



Apabila seseorang bertemu dengan orang
yang kasta jiwanya tinggi. Dia akan memandang kagum, hormat dan tunduk pada
orang itu.



 



Hal ini dapat diterapkan dalam hal
pencarian pasangan hidup. Pihak yang kasta jiwanya lebih rendah, cenderung
dipimpin, cenderung dipandang rendah. Pihak yang kasta jiwanya lebih tinggi,
mereka akan dikejar-kejar oleh orang yang kastanya lebih rendah.
Apabila kasta jiwa mereka sepantaran, maka
mereka akan cenderung “berteman saja”.



 



Sebuah
rahasia adalah... kita dapat mengubah kasta jiwa kita sendiri sesuai kehendak
kita. Apabila kita mau mengubah keadaan jiwa kita. Kita dapat mengubah keadaan
jiwa kita. Untuk yang kristiani, mereka dapat mengubah kasta jiwa mereka dengan
cara berdoa kepada Tuhan dan meminta Tuhan mengubah mereka. Cara lain untuk
mengubah kasta jiwa kita adalah dengan melakukan ”modelling” pada orang kasta
jiwanya lebih tinggi. Tiru sistim kepercayaan mereka, tiru mental syntax mereka
dan tiru gerakan fisiologi mereka.

Modelling (NLP)

Modelling adalah salah
satu tehnik NLP (neuro linguistic programming). Teori NLP mengatakan bahwa kita bisa menjadi ahli
seperti orang lain, kita bisa sukses seperti orang lain, jika kita melakukan
modelling dari orang itu. Modelling, secara kasar dapat dikatakan sebagai
meniru orang lain. Apa sajakah yang harus kita tiru untuk mendapatkan hasil
seperti orang lain itu?


Langkah-langkah
modelling adalah:


1. Yang pertama harus
kita tiru dari orang lain yang lebih sukses dari kita adalah sistim
kepercayaan
orang itu.


Orang melakukan
tindakan apapun, selalu didasari oleh sistim kepercayaan dalam pikiran mereka.
Orang sukses memiliki kepercayaan yang berbeda dibanding orang gagal.
Contohnya: orang sukses selalu berpikir ”Tidak ada yang namanya kegagalan, yang
ada hanyalah proses belajar”. Sedangkan orang gagal berpikir ”Aku gagal berarti
aku bodoh, aku tidak mungkin bisa”.


2. Yang kedua
harus kita tiru dari orang sukses adalah mental syntax mereka. Apakah
mental syntax itu? Itu adalah urutan pemrograman. Seperti komputer. Contohnya:
kalo kita ketik ini di kalkulator 5+2*7 hasilnya adalah 49. Tetapi kalo tanda +
dan * dibalik, akan menjadi 5*2+7 hasilnya adalah 17.


Orang sukses
dalam bertindak memiliki urutan mental syntax yang berbeda dibanding orang
gagal. Contoh: orang sukses, mereka melihat masalah, mereka pikir dulu, dicari
penyelesaiannya, baru mereka rasakan emosi dalam hati mereka. Hasilnya mereka
mengangap masalah adalah tantangan. Sedangkan mental syntax orang gagal adalah
mereka melihat masalah, mereka rasakan emosi lebih dulu, sehingga mereka tidak
sempat berpikir. Akhirnya mereka stres, tertekan, emosional, tanpa bisa
menyelesaikan masalah.


Orang gagal itu
bisa menjadi orang sukses jika ia mau mengubah dan meniru mental syntax dari
orang sukses itu.


3. Yang ketiga
harus ditiru dari orang sukses adalah fisiologi mereka. Fisiologi adalah
gerakan-gerakan mereka, termasuk senyum mereka. Contoh fisiologi orang sukses
adalah: badan mereka tegap, kalo berjalan badan mereka tegap, wajah mereka percaya
diri, ada sedikit senyum terlihat di wajah mereka. Sedangkan fisiologi orang
gagal adalah: badan mereka membungkuk, wajah mereka lesu.


Orang gagal itu
bisa meniru fisiologi orang sukses itu kalo mereka ingin sukses.





Saya pribadi
melakukan modelling dalam berbagai aspek kehidupan saya. Kalau aku mau
berkotbah seperti seperti Philip Mantofa, aku tinggal meniru sistim kepercayaan
apa yang dimilikinya, mental syntax ko philip apa saja, kemudian aku tiru
gerakan-gerakan fisik ko philip saat berkotbah termasuk suaranya, gerakan
posturnya, sedetail mungkin. Maka aku bisa berkotbah seperti ko Philip. Kalo
ternyata belum berhasil, berarti ada yang miss. Mungkin sistim kepercayaannya
ko Philip belum semuanya aku adopsi, atau mungkin mental syntax-ku salah.





Kalau aku mau
sukses dalam menggaet wanita. Aku cari orang yang sudah sukses dalam menggaet
wanita. Aku tiru sistim kepercayaan mereka, aku tiru mental syntax mereka, dan
aku tiru fisiologi mereka. Maka aku bisa sesukses mereka.





Kalau aku mau
menginjil dengan berani. Aku tinggal cari orang yang sudah sukses dalam
menginjil. Aku tiru sistim kepercayaan mereka, aku tiru mental syntax mereka,
dan aku tiru fisiologi mereka.





Lihatlah...
tehnik ini sangat luar biasa. Kita bisa sesukses seperti siapa saja yang kita mau.

Rabu, 16 April 2008

merindukan-Mu

berdosakah aku jika mencintai-Mu
berdosakah aku jika mencintai Yang Maha Tinggi
berdosakah aku jika menginginkan diri-Mu melebihi apapun
Aku menginginkan-Mu
Kapankah Engkau akan menghampiriku?



Berikan saja kepadaku...
Alam semesta dan segenap kemegahannya
Segala isi Kerajaan Surga dan kekekalannya
Tanpa Engkau...
Hatiku masih kosong



Aku bukan Musa
Aku bukan Daud
Aku bukan Philip Mantofa
Tapi aku merindukan Tuhan...



Ijinkan aku...
Untuk tinggal dalam hadirat-Mu...
Menikmati kehadiran-Mu...
Seumur hidupku...